Minggu, 13 Juni 2010

Kisah wanita yang diperkosa

Kisah dokter Dokter Qomarul menerima perempuan berjilbab itu di ruang tamu rumahnya di tengah kampung di Bantul. "Saya tertarik mater

Dokter Qomarul menerima perempuan berjilbab itu di ruang tamu rumahnya di tengah kampung di Bantul. "Saya tertarik materi pijat bayi yang ibu sampaikan tempo hari," kata perempuan itu.

"Ibu-ibu PKK di tempat saya ingin mendengar sendiri penjelasan ibu," katanya.

"Kapan?" sahut dokter Marul yang tampak cantik dengan jilbab biru panjang dan jubah biru tua kembang-kembangnya.

"Minggu, jam 10 pagi," jawab perempuan itu.

Dokter Marul melihat catatan jadwalnya berceramah di banyak tempat. "Baik, tapi saya dijemput ya?" sahutnya. Perempuan itu mengiyakan lalu pamit pulang. Dokter Marul melihat perempuan itu diboncengkan seorang lelaki. Perasaannya agak tak enak melihat tatap mata lelaki itu yang seperti menembus busananya. Minggu, pukul 09.45, perempuan itu datang sendirian, bersepedamotor.

"Bagaimana bu?" "Ayo, kita berangkat sekarang," Di jalan, motor melewati jalan-jalan kampung yang tak dikenal dr Marul. "Kok lewat sini sih?" tanyanya. "Kita nggak pakai helm bu, nanti kena tilang," katanya. Dokter Marul tak ambil pusing daerah mana yang ia lewati. Toh nanti ia diantar pulang. Sampai akhirnya, motor masuk ke sebuah rumah besar berpintu gerbang dan pagar tinggi, di tepi sawah, jauh dari rumah penduduk. Motor itu baru berhenti didalam garasi besar dengan beberapa mobil di dalamnya. Rolling door garasi ditutup.

"Silakan masuk bu..." Dokter Marul masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa besar. Heran juga ia, ini rumah kok mewah betul. "Mana ibu-ibunya?" "Di ruang dalam bu sama bayinya...sebentar ya," perempuan itu masuk lalu tak lama kemudian kembali. "Mari bu..." Dokter Marul mengikutinya. Ketika pintu ruangan dibuka, dokter Marul agak terkejut juga. Di dalam, ada lima perempuan, semuanya bercadar serba hitam, hanya mata saja yang terlihat. Apalagi tak seorang pun yang menjawab salamnya. Mereka hanya menganggukkan kepala. Dokter Marul duduk di hadapan para ibu itu. Sementara di tengah ruangan ada kasur digelar di lantai. "Bisa kita mulai?" tanyanya. "Sebentar bu, saya ambil bayinya," kata perempuan yang tadi menjemputnya. "Yuk, bantu saya bawa bayinya..." katanya kepada seorang ibu bercadar. Dokter Marul terkejut luar biasa waktu mendengar suara erangan perempuan.

Semua mata menoleh ke arah datangnya suara. "Ohhhh...." dokter Marul terpekik. "Bayinya nggak ada bu, ini gantinya..." perempuan itu menunjuk seorang perempuan yang terikat kedua tangannya di belakang punggungnya, telanjang bulat, hanya secuil jilbab di kepalanya, kini dihempaskan ke atas kasur di tengah ruangan. "Apa-apaan ini?" suara dr Marul gemetar. "Cewek ini perlu dipijat, bu dokter. Dia kecapekan diperkosa lima lelaki selama dua hari...ayo diperiksa bu..." Ragu-ragu Dokter Marul mendekat. "Lho, Bu Isnu?" ia memekik begitu mengenali perempuan itu adalah temannya.

"Siapa yang melakukan ini?" lanjutnya sambil memperhatikan sepasang payudara montok Isnu yang terlihat memar bekas remasan dan beberapa luka gigitan di sekitar putingnya. Isnu hanya merintih dan melirik ke lima perempuan bercadar. Dokter Marul mengikuti arah pandangan Isnu.

Ia memekik terkejut sekaligus takut ketika melihat 5 perempuan bercadar itu telah melepas kerudung dan cadarnya. Dan di baliknya, terpampang wajah-wajah kasar dan bengis lelaki. Dokter Marul kini ketakutan, apalagi kelima lelaki itu kini mengelilinginya sambil melepas satu persatu busana mereka. Ketika tinggal selangkah lagi, kelimanya sudah bugil dan... "Jangaaaannn..." Dokter Marul menjerit histeris saat payudara kirinya ditangkap dan dicengkeram kuat-kuat.

Ia coba menepiskan tangan itu, tapi kini malah kedua tangannya yang dipegangi. Dokter Marul menjerit lagi, putus asa. Sementara payudara kirinya masih disakiti, payudara kanannya pun mulai dicengkeram, diremas-remas dan sesekali ditarik, seperti hendak dilepaskan dari dadanya. Pekikan kecil kembali keluar dari bibirnya saat pangkal pahanya pun dijamah. Perempuan berusia 34 tahun itu makin panik ketika menyadari kedua tangannya telah terikat di belakang tubuhnya. Lalu ujung-ujung jilbab panjangnya pun diikat ke belakang lehernya.

Sekilas dokter Marul melihat perempuan yang tadi menjemputnya pun telah telanjang bulat, tetapi masih tetap mengenakan jilbabnya. Perempuan itu tampak tengah merapatkan wajahnya di selangkangan Isnu yang mengerang-erang. Sementara kedua tangannya meremas-remas payudara guru TK itu. "Bu dokter boleh teriak sekuat-kuatnya, tetapi jangan harap ada yang akan menolong," ancam lelaki yang tengah meremas selangkangannya seraya memperkeras remasannya.

"Aaiihhhhh...jangaaannn...addduhhhhh...sakkkiiiittt...jangaaaannnn.. ." dokter Marul akhirnya tak tahan untuk tak berteriak. Kulit kelaminnya terasa pedih karena cengkeraman lelaki itu membuat rambut kelaminnya tertarik.

"Bu dokter belum punya anak ya? Jangan khawatir, kami akan buatkan anak...he he... kembar lima..." lanjut lelaki itu, lalu berlutut di hadapan dokter Marul. Perempuan itu menjerit dan menangis ketika jubahnya yang coklat dan bermotif bunga-bunga kecil, digunting dua jengkal di atas lutut. Tetapi ternyata di baliknya masih ada rok dalam berwarna putih. Masih sambil memegang gunting, lelaki itu menarik turun rok dalam dokter Marul. Perlahan, paha yang putih mulus sedikit demi sedikit terlihat bebas. Pangkal paha perempuan itu cuma terlihat sedikit.

"Ngintip sedikit ya bu dokter ?" kata lelaki di bawah, sambil mengangkat ujung jubah yang terpotong hingga kini pangkal pahanya yang tertutup cd putih terlihat jelas. Celana dalam dokter yang juga aktifis Partai Keadilan itu tampak padat menggembung. Sekilas terbayang kehitaman di baliknya. Lima lelaki itu bersorak dan berebut berkomentar.

"Asyiiik... kita bakal lihat memek dokter," "Cepet buka celananya !" "Iya... gue mau gigit klentitnya !" Dokter Marul bergidik mendengar komentar-komentar jorok itu.

"Sebentar, aku lebih suka melihat yang ini dulu," lelaki di depannya tiba-tiba bangkit. Dokter Marul menggeliat saat lelaki itu menangkupkan kedua telapak tangannya di atas payudaranya dan meremas-remasnya dengan lembut. Dokter Marul terisak-isak ketika lelaki itu menggunting kain jubah di depan tonjolan payudaranya.

Dua lubang besar kini memperlihatkan payudaranya yang masih terbungkus BH. "Sekarang waktunya buka jendela," lelaki itu kemudian memotong tali BH sebelah kanan, dilanjutkan dengan tali di rusuk dan sambungan antara cup BH. Dijumputnya cup BH dokter Marul perlahan hingga terlepas.

"Aihhhh....!" dokter Marul terpekik. Wajahnya merah padam. Payudaranya yang sebelah kanan kini terbuka bebas. Tak seberapa besar tetapi tampak bundar dan padat. Putingnya yang hitam, bagaikan penghapus di ujung pensil. Payudaranya begitu putih dan mulus, sampai-sampai pembuluh darahnya yang biru kehijauan terlihat di balik kulitnya. Perempuan itu terus memekik-mekik, sebab satu persatu para lelaki bergantian meremasnya. Tak satupun yang melewatkan memilin-milin dan menarik-narik putingnya. Bahkan, merekapun menjilati dan mengulum daging mungil itu. Dokter Marul menggigit bibir dan memejamkan matanya. Tak sadar payudara yang satunya pun kini terbuka. Dokter Marul baru menjerit ketika lelaki pemegang gunting mengulum dan kemudian menggigit putingnya agak keras. Dokter Marul betul-betul panik. Ia kini dibaringkan di sebelah Isnu. Ia sempat melirik wajah Isnu dikangkangi perempuan berjilbab yang tadi menjemputnya. Perempuan itu terlihat menusuk-nusuk vagina Isnu dengan jarinya.

"Ayo, sekarang kita mengecek memek dokter !" tiba-tiba terdengar suara lelaki, seperti petir di telinga dokter Marul. Tetapi ia cuma bisa menjerit-jerit saat kedua kakinya diangkat dan direnggangkan selebar-lebarnya.

Pangkal pahanya kini betul-betul menjadi sasaran empuk. Beberapa pasang tangan langsung meraba, meremas dan menepuk-nepuk vaginanya yang masih tertutup cd. Dokter Marul menjerit lebih keras saat ada tangan yang menyusup ke balik cdnya. Tapi semua sia-sia. Celana dalamnya pun kini terenggut putus, menampakkan kelaminnya yang tampak segar dengan sedikit rambut tumbuh di situ. Kedua kaki dokter Marul ditarik ke arah tubuhnya. Akibatnya punggungnya kini melengkung dan pinggulnya terangkat. Lelaki yang tadi menggunting jubahnya merapatkan wajahnya ke vagina perempuan itu. Dikucek-kuceknya pintu masuk ke liang vagina perempuan itu. Dua jempolnya kini mulai menyusup di celah vaginanya. Dokter Marul merintih-rintih.

"Ciluuk.... baaaa !" lelaki itu melebarkan liang vagina korbannya. "Buseetttt.... gila !" teriaknya. Teman-temannya mendekatkan wajah ke vagina dokter Marul. Mereka melihat bagian dalam vagina dokter Marul yang pink dan tampak ada selaput masih utuh di situ.

"Bu dokter masih perawan ya? Makanya nggak punya-punya anak !"
Mendengar hal itu, para lelaki bersorak-sorak. Salah seorang dari mereka lalu menjilati pipi perempuan itu, lalu memaksa mengulum bibirnya.

"Kenapa masih perawan, Bu ? Kontol suami ibu nggak bisa ngaceng ya? Wah, bego betul dia. Ngelihat memek dan tetek ibu, lelaki harusnya bisa ngaceng !" katanya. Marul tak menjawab, ia menangis terisak-isak. Tetapi tak urung ia meronta-ronta saat seorang lelaki mengangkangi wajahnya dan menyodorkan sebatang penis yang meski belum tegang, tapi tampak menjuntai panjang. "Bu dokter belum pernah lihat kontol ngaceng kan?" katanya sambil memaksa dokter Marul mengulum penisnya.

Sebagai dokter, Marul tentu saja tahu soal oral seks. Tetapi sebagai perempuan 'baik-baik' ia tak pernah membayangkan bakal melakukannya, apalagi terhadap penis lelaki asing ! Namun, sekeras apapun penolakannya, para lelaki itu begitu berkuasa atas dirinya. Kini penis lelaki itu telah memenuhi rongga mulutnya. Dokter Marul bisa merasakan penis lelaki itu membesar dan mengeras hingga ia mulai kesulitan bernapas, karena pemilik penis itu mulai menggerakkan penisnya maju mundur sampai menyentuh kerongkongannya. Perempuan itu seperti akan pingsan menerima penghinaan hebat seperti itu.

Sementara mulutnya diperkosa, sepasang payudaranya tak henti dipermainkan. Kedua putingnya mengeras dan panjang akibat terus dihisap dan ditarik-tarik para pengeroyoknya. Sementara vaginanya betul-betul basah karena terus dijilati dan dikunyah para lelaki berganti-ganti. "Suruh nungging cewek itu di sini," kata lelaki yang sedang memperkosa mulut dokter Marul. Tampaknya ia pemimpin komplotan ini. Dua lelaki kemudian menyeret Isnu dan membuatnya menungging di sisi kepala dokter Marul. Pimpinan komplotan itu kemudian memutar kepala dokter Marul hingga wajahnya menghadap selangkangan Isnu.

"Ayo bu dokter, lihat memek cewek ini," katanya sambil menusukkan dua jari ke vagina Isnu yang tampak memar. "Saya ingin tunjukkan padamu bagaimana seharusnya kontol lelaki," lanjutnya sambil menarik keluar penisnya. "Suruh dia melihat terus. Kalau menolak, tarik pentilnya !" lelaki itu memberi perintah kepada teman-temannya. Jadilah dokter Marul melihat lelaki itu menghampiri Isnu dari belakang. Dokter Marul bisa melihat penis lelaki itu menekan liang vagina Isnu.

"Ini gunanya kontol, Bu ! Nanti ibu dokter juga harus merasakannya," lelaki itu lalu mendorong penisnya, masuk sejauh-jauhnya ke vagina Isnu.

Dokter Marul menggigit bibirnya ketika mendengar rintih kesakitan Isnu. Lelaki itu tidak lama melakukannya. Ia tampaknya cuma ingin mempermainkan dokter Marul. Ditariknya penisnya keluar dan dipaksanya dokter Marul kembali mengulum penisnya yang kini berlumur cairan vagina Isnu dan sisa-sisa sperma bekas perkosaan di dalamnya. Dokter Marul mau muntah, tapi tetap saja ia melakukannya. "Tak cuma memek Bu. Lubang di sebelahnya juga bisa," lelaki itu lalu menarik keluar penisnya dari mulut dokter Marul dan kini menempelkan kepala penisnya ke liang anus Isnu. Dokter Marul memandang dengan penuh rasa ngeri saat melihat anus Isnu melebar terdesak penis yang lumayan besar itu. Apalagi, Isnu pun mengerang keras saat anusnya diterobos dengan kasar. Itu pun tak lama. Lelaki itu lagi-lagi mengeluarkan penisnya dan memaksa dokter Marul mengulumnya.

"Nah, sekarang saya ingin tunjukkan kepada bu dokter, bagaimana rasanya disetubuhi. Bu dokter baru tahu teorinya kan?" katanya. Kali ini perempuan itu betul-betul panik. Posisi tubuhnya yang terlentang dengan kaki mengangkang didorong merapat ke arah tubuhnya, membuat ia dapat jelas melihat vaginanya yang kini dituding penis lelaki itu.

"Aahh... jangannn... tolong... jangaaannnn..." perempuan itu mengiba-iba. Dilihatnya bibir vaginanya mulai membuka akibat ditekan kepala penis. Namun, dokter Marul tak bisa apa-apa. Apalagi empat lelaki lainnya pun terus mempermainkannya. Empat pasang tangan tak henti meraba sekujur tubuhnya.

Dokter Marul ingin memejamkan matanya, namun seorang di antara mereka memaksa kelopak matanya membuka. Karena itu, ia terpaksa menatap pemandangan mengerikan di hadapannya... "Memek bu dokter hangat juga nih ... " kata pemilik penis saat ujung penisnya mulai terjepit bibir vagina dokter Marul.

"Sudah....sudah...keluarkan....ahhh...aaaaaaaakkkkkhhhhhh !!!" Dokter Marul menjerit histeris. Sebab, lelaki itu dengan tiba-tiba mendorong penisnya maju. Perempuan itu merasa bagian bawah tubuhnya seakan terbelah.

Dokter Marul masih menjerit-jerit kesakitan. Tetapi lelaki itu dengan tenangnya membuat gerakan memutar-mutar pinggul. Akibatnya, penisnya yang besar dan panjang seperti mengaduk-aduk bagian dalam vagina dokter Marul. Sekujur tubuh perempuan itu menggigil menahan sakit.

"Nah, bu dokter sekarang bisa lihat yang namanya darah perawan. Mestinya ini pada malam pertama kan?" lelaki itu menarik keluar penisnya yang berlumur darah dan memaksa dokter Marul melihat.

"Kalian.... jahat... ihik..." dokter Marul terisak.

"Tepat ! Kami memang jahat. Dan sekarang saya ingin tunjukkan kejahatan lainnya..." lelaki itu lalu menunjukan sebuah botol kecil. Dokter Marul tak tahu isi botol itu, tapi dilihatnya lelaki itu mencolek krim dari dalamnya dan membaluri telunjuk dan jari tengahnya dengan krim itu.

"Hiaaaahhhhhhh....sakkkkiiittttt....!!!" Dokter Marul menjerit histeris. Lelaki itu dengan tidak berperasaan menusukkan dua jarinya itu ke anusnya dan langsung menggerakkannya berputar-putar.

"Husss... cup...cup....jangan teriak dulu sayang... Ini belum apa-apa. Sekarang coba yang ini..." lelaki itu langsung menekan anus dokter Marul dengan ujung penisnya. Tak terlalu sulit karena liang sempit itu sudah dilumasi.

Kepala penisnya langsung melesak ke dalam diiringi jerit dokter Marul yang makin keras. Jeritan dokter Marul makin parau ketika akhirnya penis lelaki itu berhasil masuk sampai ke pangkalnya.

Selebihnya adalah penderitaan hebat perempuan itu lantaran kocokan cepat di anusnya. Bahkan, berkali-kali lelaki itu memindah-mindahkan penisnya dari anus ke vagina dan sebaliknya. Hingga akhirnya, lelaki itu seperti kesetanan mengaduk vagina dokter Marul.

"Grrrrhhhhhh....." lelaki itu menggeram keras dan tiba-tiba saja telah mengangkangi wajah dokter Marul lalu memaksanya mengulum penisnya yang berlendir. Dokter Marul membelalakkan matanya saat merasakan penis lelaki itu berdenyut-denyut di dalam mulutnya. Lalu, beberapa detik kemudian, semburan deras cairan kental berbau khas mengenai dinding kerongkongannya. Semprotan sperma lelaki itu seolah tak mau berhenti. Padahal, dokter Marul merasakan rongga mulutnya telah dipenuhi cairan yang membuatnya ingin muntah. Lelaki itu tak juga melepaskan penisnya dari mulut dokter Marul.

"Ayo ditelan, bu dokter. Itu mengandung protein tinggi lho !" kata para pengeroyoknya. Ada yang kemudian mencengkeram kedua payudaranya sambil memaksanya menelan sperma temannya. Terpaksa, dokter Marul melakukannya...

Dokter Qomarul terisak-isak. Baru kali ini ia mendapatkan pelecehan sehebat itu. Diperkosa, disodomi lalu dipaksa menelan sperma pemerkosanya. 25 menit pertama begitu menyiksa. Tetapi, ia masih dalam kekuasaan 5 lelaki ini.
"Waah, brur, kalau lu buang di mulutnya, gimana dia bisa hamil ?" kata seorang lelaki melihat rekannya menumpahkan sperma di mulut Marul.

"Cuek ah, gue seneng liat bibirnya. Lu aja yang buntingin dia," sahut si pengoral. Lalu, yang terjadi kemudian adalah jerit-jerit kesakitan dan kengerian Qomarul lantaran keempat lelaki lainnya bergiliran menyetubuhinya. Tiga di antaranya menumpahkan sperma di dalam vaginanya. Seorang di dalam anusnya. Tetapi, keempatnya memaksanya membersihkan penis berlendir mereka dengan mulutnya.

Dokter Qomarul betul-betul berantakan. Ia tergolek tak berdaya di sebelah Isnu. Pangkal pahanya tampak berlepotan sperma. Begitu pula kedua payudaranya. Sperma membasahi pula wajah sendunya. Ada yang tampak mengalir di celah bibirnya. Tetapi itu belum berakhir. Titiek, perempuan berjilbab yang tadi menjemputnya, digandeng mendekatinya. Lalu, Titiek mengangkangi wajahnya. Samar-samar Marul melihat vagina Titiek juga belepotan sperma. Sebagian malah terlihat mengalir di kedua sisi bagian dalam pahanya. Seorang lelaki menjepit kedua puting Marul hingga dokter muda ini merintih-rintih.

"Bersihkan memeknya pakai lidahmu. Telan abis cairan kaya protein ini !" perintahnya.
Marul tak punya pilihan lain. Dijilatinya vagina dan paha Titiek sampai bersih. Bahkan, Titiek menguakkan bibir vaginanya lebar-lebar hingga lidah Marul pun menjelajah ke sana.

------

Titiek adalah seorang ibu rumah tangga beranak 1. Usianya baru 29 tahun. Tubuhnya montok dengan kulit kuning langsat. Bagaimana ia bisa bergabung dengan geng pemerkosa ini ?

Awalnya 6 bulan lalu. Titiek hanya sendirian di rumah kontrakannya. Anaknya sedang sekolah di TK. Lalu, dua orang lelaki mengetuk pintu rumahnya.
"Maaf Bu, kami dari Pertamina," kata seorang dari mereka sambil memperlihatkan kartu identitas berwarna biru.

"Ada apa ya ?" kata Titiek sambil membenahi jilbab putihnya yang agak melorot sehingga beberapa helai rambutnya terlihat.

"Kami sedang survei tabung gas LPG, Bu. Sebab, ada laporan tabung gas di wilayah ini banyak yang bocor," lanjut lelaki itu. Titiek terlihat ragu.

"Sebentar saja, Bu. Hanya melihat bagian segel tabung," lanjut lelaki itu.

"Sebentar saja ya ?" kata Titiek sambil akhirnya membuka pintu.

Dua lelaki itu masuk. Titiek menunjukkan tempatnya menyimpan tabung gas di bagian belakang rumah. Seorang di antara lelaki itu mengeluarkan sebilah obeng.

"Kok sepi, Bu ? Bapak kerja ya ?"

"Iya. Sore baru pulang. Anak saya sekolah. 1 jam lagi saya jemput," sahut Titiek.

"Nggak apa-apa. 1 jam cukup," kata si pemegang obeng. Titiek tak begitu paham maksud kata-katanya. Yang jelas, tiba-tiba kedua pergelangan tangannya diringkus dan ditelikung ke belakang. Titiek hampir menjerit saat mulutnya dibekap.

"Kamu teriak, obeng ini menembus tubuhmu," ancam lelaki di depannya sambil mengacungkan obeng ke lehernya. "Mengerti ?!" bentak lelaki itu. Titiek mengangguk-angguk ketakutan.

"Kalian, mau apa ?" katanya gemetar saat tangan yang membekap mulutnya dilepas.

"Jangan takut. Kami tak akan menyakitimu. Kamu cuma harus bekerjasama. Ngerti ?" Titiek menggeliat-geliat saat ujung obeng itu disodok-sodokkan ke kedua gundukan payudaranya yang tertutup jilbab.

"I...i...iya, tapi jangan...perkosa saya..." kata perempuan asal Jawa Timur ini ketakutan, sebab ujung obeng kini menekan selangkangannya dan terasa agak sakit.

"Tenang saja. Kalau kamu mau kerjasama, kamu nggak akan diperkosa," sahut si pemegang obeng.

"Maaf ya, tadi kami bohong. Kami bukannya mau survei tabung gas. Tapi survei tetek dan memek perempuan berjilbab. Nah, sekarang buka pakaianmu. Jilbabmu nggak usah dibuka. Kan yang disurvei perempuan berjilbab," lanjutnya.

Titiek terkejut dan spontan menyilangkan kedua tangan ke depan dadanya.
"Emoh, aku nggak mau," katanya. Si pemegang obeng mendekat dan langsung mencengkeram pangkal pahanya.

"Kalau disuruh telanjang saja nggak mau, terpaksa kami memperkosamu !" ancamnya.
Titiek ketakutan. Ia tak punya pilihan lain. Dengan tangan gemetar, ia melepas blusnya. Kedua lelaki itu menonton sambil duduk di kursi di hadapannya. Seorang di antara mereka mengeluarkan sebuah handycam.

"Lho, jangan direkam dong..." katanya memelas.
"Ya, namanya survei harus ada bukti dong," timpal operator handycam. Si pemegang obeng menyuruhnya melanjutkan melepas sisa pakaiannya. Lalu, rok panjangnya pun lepas. Kedua lelaki itu menyuruhnya menyampirkan jilbab putihnya ke pundak. Kini Titiek tampak menggairahkan dengan hanya jilbab, bra dan celana dalamnya. Wajahnya yang putih tampak merah padam saat ia mulai melepaskan kancing pengait bra-nya. Kamera meng-close up kedua payudaranya yang montok dengan puting kehitaman yang mengacung. Titiek makin gemetar saat ia menarik turun celana dalamnya. Akhirnya, ibu muda ini pun tampil hanya dengan jilbabnya. Vaginanya tampak tembam dengan rambut yang agak lebat tetapi seperti tersisir rapi. Kedua lelaki itu kemudian mendekat. Titiek seperti kesetrum waktu kedua payudaranya disentuh. Diremas-remas dan ditarik-tarik. Putingnya dipilin-pilin dan sesekali ditarik, sementara kamera merekam semuanya. Tak urung ia protes saat seorang di antara mereka mengulum kedua putingnya. Tetapi percuma saja ia protes. Lelaki itu terus asyik mengulum putingnya.

Keduanya kini berlutut di hadapan Titiek. Kakinya direnggangkan. Lensa kamera pun difokuskan ke selangkangannya. Titiek dipaksa menguakkan bibir kelaminnya. Kamera pun merekam gambar bagian dalam vagina Titiek yang kemerahan dan basah. Titiek kaget bukan kepalang ketika melihat 3 lelaki lain sudah ada di dalam. Spontan ia menutupi payudara dan vaginanya dengan kedua tangannya.

"Nggak apa-apa, mereka juga petugas survei," kata si operator kamera. Titiek masih khawatir. Apalagi ia melihat ketiga lelaki itu kini membuka celana masing-masing. Mereka pun mengocok penis masing-masing.

"Tapi kok pakai buka celana segala," protes Titiek. Namun, lagi-lagi, protesnya tak ditanggapi.

"Cepat brur, gue nggak tahan lihat memeknya," kata seorang di antara mereka. Ketiganya kini ikut merubung Titiek. Tangan-tangan mereka langsung meraba payudara dan vagina Titiek.
"Emoh....emoh... tadi katanya cuma telanjang..." protes Titiek.

"Wah. sorry ya, kayaknya teman-teman nggak tahan nih," kata si operator. "Begini saja. Bagaimana kalau kamu layani mereka baik-baik. Jadi, tidak diperkosa, begitu ?" lanjutya.

"Emoh...emoh...aku nggak mau!" pekik Titiek. Ia menggeliat karena merasa ada jari yang masuk ke liang vaginanya.

"Oke...oke... Begini saja. Kamu kami beri kesempatan agar tidak diperkosa. Kasihan kontol mereka udah pada ngaceng begitu. Kamu emut kontol kami semua. Kalau sampai 5 menit tidak orgasme, terpaksa dilanjutkan dengan memekmu ini. Kalau kamu nggak mau, ya terpaksa kami perkosa kamu. Jadi, berusahalah membuat kami orgasme di mulutmu, ya ?" lanjut si operator. Kali ini sambil memaksa Titiek berlutut.

Titiek tak bisa protes lagi. Kini ia dikelilingi lima lelaki yang menyodorkan penis-penis mereka.
"Ayo mulai !" perintah si operator handycam. Titiek serba salah.

Kalau tak dilakukan, berarti 5 lelaki itu segera memperkosanya. Ia memang pernah mengoral suaminya, meski tak sampai orgasme di mulut. Tetapi terhadap lelaki lain ? Telanjang di hadapan lelaki lain saja tak pernah dibayangkannya !

Tetapi, akhirnya ia lakukan juga. Titiek berusaha sekuat tenaga agar lelaki pertama segera orgasme sebelum 5 menit. Ia berhasil ! Pada menit keempat setengah, lelaki itu orgasme, menumpahkan sperma ke mulutnya. Untuk pertama kali dalam hidup, ia mengetahui rasanya sperma !

Titiek senang, tetapi susah. Senang, karena ia berhasil membuat orgasme lelaki pertama. Susah, karena kini mulutnya penuh sperma. Titiek mual. Itu sebabnya ia tak bisa konsentrasi pada lelaki kedua, ketiga, keempat dan kelima. Lewat lima menit, tak seorang pun dari mereka yang orgasme.

"Aaaakkhhhh..... jangaaaaannn.... mmmfff.....mmppphhh....!"
Titiek menjerit ketika kedua tangan dan kakinya dipegangi dan kini ia terlentang dengan kaki mengangkang. Jeritnya terhenti karena mulutnya kembali disumpal penis yang besar. Akhirnya, keempat lelaki itu memperkosanya bergiliran. Ia bahkan juga disodomi. Dua lelaki menumpahkan sperma di rahimnya. Dua yang lain, masing-masing di anus dan mulutnya. Titiek tergolek tak berdaya. Terisak-isak menyesali nasibnya. Saat itulah lelaki yang tadi hanya bertahan empat menit memaksanya menungging. Tak ada gunanya lagi melawan. Tak ada bedanya diperkosa 5 atau 4 orang. Sejak itulah, kelima lelaki itu menghantui hidupnya. Berbekal foto-foto telanjangnya, mereka leluasa mempermainkannya. Sejak itu, Titiek tak pernah kesepian. Saat suaminya bekerja, ada saja di antara mereka yang datang untuk menidurinya.

Sesekali, Titiek diajak keluar. Titiek tak kuasa menolak. Bahkan, tak hanya lima lelaki itu yang sudah menikmati tubuh montoknya. Titiek sadar betul bahwa ia kini jadi budak seks mereka. Cukup sering ia dipaksa melayani lelaki lain yang berani membayar mahal untuk tidur dengan ibu rumah tangga cantik berjilbab rapi.

Sampai suatu hari, ia diminta, tepatnya diperintah untuk menjalankan skenario perkosaan atas dokter Marul. Skenario itu berhasil berjalan dengan mulus. Kini dokter Marul pun jadi budak seks kelompok maniak ini, bersama Titiek dan Isnu.

Nasib Isnu tak beda dengan Titiek. Tetapi komplotan ini tak sengaja menemukan Isnu. Ketika itu, mereka dalam perjalanan pulang sehabis mengantarkan Titiek ke seorang pemesan di Pantai Parangtritis. Mobil Kijang yang mereka tumpangi sedang berhenti di sebuah traffic light. Saat itulah Isnu melintas dari arah persimpangan yang lain dengan sepedanya.

"Eh lihat-lihat ! Gila, cakep banget tuh cewek !" teriak sopir yang tampaknya pimpinan komplotan ini. Kontan keempat lelaki lainnya melotot. Isnu memang cantik. Ada lesung pipit di kedua pipinya. Kulitnya putih mulus. Kira-kira, Luthfiah Sungkar waktu masih gadis, begitulah wajah Isnu.

Meski berjubah lebar dan berjilbab panjang, sekilas bisa terlihat tubuh di baliknya sungguh montok. Dari celah jilbab di bawah pangkal lengannya juga terlihat tonjolan dadanya yang lumayan besar.

"Sikat nggak ?" tanya sopir.

"Gila kalau nggak ngaceng lihat cewek itu !" komentar temannya. Sopir pun membelokkan Kijang ke arah Isnu.

Mobil berjalan pelan di belakang Isnu yang terus menggenjot sepedanya. Kelima lelaki itu menikmati pemandangan bokong Isnu yang menjepit jok sepedanya. Tentu saja di kepala mereka terbayang kalau yang terjepit bokong itu adalah penis mereka !

Skenario pun disusun. Kijang itu segera menyalip Isnu. Gadis berusia 24 tahun itu sempat melirik lelaki-lelaki di dalam mobil Kijang yang menyalipnya. Tetapi, ia segera menundukkan pandangannya. Pada dasarnya, Isnu memang gadis pemalu. Isnu tak terlalu ambil pusing. Toh, saat itu ia memang sedang sakit kepala. Capek seharian mengajar anak-anak TK yang banyak ulahnya. Kijang itu melaju jauh ke depan, sampai tak terlihat oleh Isnu. Kelima lelaki itu tahu, jauh di depan sana ada lokasi yang agak sepi.

Dua lelaki diturunkan. Lalu kijang itu berbalik arah kembali ke Isnu. Isnu tak tahu mobil Kijang yang tadi menyalipnya, kini sudah berada di belakangnya lagi. Ia terus mengayuh sepedanya. Sampai di tempat yang agak sepi tadi, ia melihat dua lelaki di tepi jalan, melambaikan tangan, memintanya berhenti.

"Maaf mbak, numpang tanya," sapa lelaki yang terlihat sopan, ketika Isnu berhenti.
"Ya ?"
"Ini benar jalan ke Imogiri ?" lanjut lelaki itu.
"Betul, Pak. Lurus ke sana,"
"Ada angkutan umum ke sana, nggak ya ?"
"Wah, nggak ada Pak,"
"Terus, bagaimana kalau saya mau ke sana ?"
"Bagaimana ya ?" Isnu menggumam sendiri.
Tepat saat itu, mobil kijang tadi berhenti di sisi mereka. Seorang di antara penumpangnya turun.
"Numpang tanya, Mbak, Mas, ke Imogiri lewat mana ya ?" tanya orang itu.
"Lurus saja, Pak," sahut Isnu. Heran juga dia. Hari ini kok berturut-turut ada orang tanya jalan ke Imogiri.
"Eh Pak, anda mau ke Imogiri ya ? Bisa numpang ?" sela lelaki yang tadi menyetop Isnu.
"Oh ya, dua bapak ini ikut saja. Nggak ada angkutan umum, Pak," Isnu tampak senang karena persoalan ini bakal selesai.
"Mbak sekalian ikut deh, buat nunjukin jalan," kali ini lelaki kedua turun dari mobil dan langsung nimbrung bicara.
"Wah, saya naik sepeda, Pak," kata Isnu.
"Sepedanya ditinggal saja, Mbak. Kapan-kapan diambil lagi," sahut lelaki itu sambil mendekat.
Sampai di sini, Isnu mulai curiga. Akhirnya ia sadar, orang-orang ini yang tadi dilihatnya memandanginya dari mobil kijang yang menyalipnya. Curiga berubah jadi khawatir melihat situasi yang sepi.
"Iya Mbak, ikut sekalian saja. Daripada capek genjot sepeda. Biar nanti kami yang nggenjot Mbak, he he he..." kata lelaki yang tadi menunggu di tepi jalan.
"Eh, eh, apa ini... eh...." Isnu berusaha menaiki sepedanya kembali.
Tetapi terlambat. Keempat lelaki itu telah mengurungnya.
"Tolong...toloooonngg....mmmffff....mmmppfff..." Isnu menjerit ketika seorang yang bertubuh besar memeluknya erat dari belakang dan menyeretnya ke mobil. Sepedanya terguling ke selokan. Meski sepi,
mulut Isnu dibekap juga. Isnu terus meronta. Tetapi kini kedua pergelangan kakinya dipegang.
Dengan mudah tubuhnya diangkat masuk ke mobil. Lima lelaki itu tertawa-tawa. Isnu dibaringkan di atas paha tiga lelaki yang duduk di jok tengah. Mereka membiarkannya berteriak-teriak. Toh tak ada yang akan mendengar. Suara Isnu nyaris habis. Yang terdengar kini tinggal isak tangisnya.
Kedua tangannya pun telah terikat ke belakang punggungnya.
"Jangan...tolong... hik... jangan... aahnngghhh.... ampuunnn....huhuhu...huuu..." Isnu merintih, mengerang dan terus menangis.
Jilbab putih lebarnya tersingkap. Ketiga lelaki itu kini bisa melihat gundukan besar di dadanya yang masih tertutup jubah biru tua. Isnu menjerit histeris ketika dua telapak tangan kasar meremasnya.
"Uhhh... kenyal dan padat. Aku bisa bayangkan hangatnya kontolku dijepit tetek cewek ini. Siapa namamu sayang ?" kata lelaki yang meremas payudaranya sambil memperkeras remasan.
"Aaakhhh.... aduhhhh...akkhhh... Is...Isnuuuu....!" Isnu menjerit.
"Kamu tadi darimana ?" lelaki itu bisa menemukan puting Isnu dari luar bajunya. Dipilinnya kuat-kuat. Isnu pun menjerit lagi.
"Aakkhh.... saya... akkhhh... dari mengajar....adududuhhhhh...." pekik kesakitan Isnu.
"Ooo, jadi kamu bu guru ya ? Guru apa ? TK ?" pilinan di putingnya diperkeras lagi.
"Iya....iyaa....aaawwwwhhh...."
Lelaki yang duduk di tengah menarik turun ritsleting di bagian muka jubah Isnu. Panjang sampai ke perutnya yang ramping. Di baliknya, ada kaus dalam putih. Isnu terisak-isak. Kaus dalamnya ditarik ke atas
meliwati dadanya. Di baliknya ada bra putih yang tampak sesak.
"Aiiiiihhhh...." Isnu memekik. Bra itu pun ditarik ke atas dengan kasar. Tiga lelaki itu berebut komentar melihat payudara telanjang Isnu yang montok. Luar biasa putih dan mulus. Saking putihnya sampai urat-uratnya yang biru kehijauan terlihat membayang. Putingnya amat kontras. Agak merah jambu warnanya. Mungil, tetapi tegak dengan areola yang sempit. Kedua putingnya pun langsung jadi sasaran mulut lelaki yang memangku kepalanya. Isnu menjerit sejadinya. Putingnya kini makin mengacung. Wajahnya merah padam karena malu,
takut dan marah yang bercampur jadi satu.
"Kamu sudah kawin, sayang ?" kali ini lelaki yang memangku kakinya yang bertanya. Jemarinya mengelus-elus pinggiran gundukan di pangkal paha Isnu.
"Ooohhh...aakkhhh....aduhhhh.... belum....beluuumm....!" Isnu menjerit lagi. Sebabnya, gundukan kecil itu dicubit keras-keras. Isnu meronta waktu bagian bawah jubah biru tuanya ditarik sampai ke pinggang. Ada rok dalam putih berenda di baliknya. Rok dalam ini pun dengan mudah ditarik lepas. Kaki kirinya kini dijepit di belakang punggung lelaki itu. Sementara kaki kanannya dipangku. Posisi itu membuat kakinya agak terbuka.
Kedua payudaranya masih diremas-remas. Putingnya terus dipilin-pilin dan ditarik-tarik. Kini kedua pahanya yang mulus pun jadi sasaran raba. Malah kini vaginanya yang tertutup celana dalam putih pun mulai
diremas-remas.
"Belum kawin ya ? Tapi sudah pernah ada kontol mampir ke sini belum ?" tanya seorang lelaki sambil menarik bagian muka celana dalam Isnu hingga terselip di antara dua bibir vaginanya. Bagian daging yang menyembul itu tampak putih mulus. Hanya sedikit rambut halus tumbuh di situ.
"Sudah ada kontol masuk memekmu ini belum ?!" bentak lelaki itu sambil menarik sehelai rambut kelamin Isnu. Kulit kelaminnya terangkat sampai akhirnya rambut itu tercabut.
"Aaakhhhh.... awwwhhhhh... belum.... belum....oohhhh...ampuuunn...huhuuuuu," Isnu menangis makin keras.
"Berarti kamu masih perawan ya ?" lelaki itu melanjutkan sambil mencubit kedua bibir kelamin Isnu.
"I...iyaa....aduh, jangan... sakiiiit....aiiiihhhh..." Isnu menjerit lagi ketika celana dalamnya dicabik-cabik. Vaginanya kini telanjang. Gundukan mulus dengan belahan yang rapat di tengahnya.
"Coba kita cek !" kata lelaki itu sambil mengangkat kaki kanan Isnu. Akibatnya kini pinggul Isnu mendongak. Isnu menjerit-jerit terus. Tiga lelaki itu mendekatkan wajah mereka ke pangkal pahanya. Isnu bisa merasakan bibir vaginanya dikuakkan jari-jari kasar. Tiga lelaki itu melihat liang vagina Isnu terbuka lebar. Bagian dalamnya pink. Agak ke dalam terlihat sebentuk selaput yang menutupi liang itu. Mereka bersorak mengetahui Isnu masih perawan. Lalu, ketiganya berebut menciumi vagina gadis itu. Menjilati dan sesekali menggigit-
gigitnya. Isnu menjerit-jerit histeris.
"Hoi, sudah sampai ! Sudah, berhenti dulu. Kita lanjutkan di dalam,"

Isnu masih menangis waktu didorong turun. Tampaknya ini rumah yang besar. Garasinya saja begitu luas dan memuat tak kurang 5 mobil. Tetapi Isnu tak terlalu memperhatikan itu. Yang ia khawatirkan adalah keselamatannya sendiri. Dan bajunya yang terbuka di sana-sini. Bagian muka jubahnya terbuka lebar. Branya terangkat ke atas dadanya. Payudaranya yang lumayan besar pun berayun-ayun. Lelaki yang duduk di jok depan pun menyempatkan meremas dada dan menarik putingnya.
Isnu digiring ke sebuah ruang yang luas dan terang benderang. Komplotan pemerkosa gadis berjilbab ini pun mengulang strategi yang biasa mereka jalankan. Pertama, melepas ikatan tangan gadis itu. Mereka sungguh menikmati saat gadis-gadis berjilbab yang pemalu dengan tergesa-gesa menutup kembali bagian tubuh mereka yang terbuka.
Lalu, mereka mempermainkan perasaannya dengan memberi dua pilihan. Menurut atau diperkosa beramai-ramai. Menurut artinya, terpaksa menerima pelecehan hebat. Biasanya itu berupa aksi menelanjangi diri sendiri di depan mereka dan direkam kamera, lalu dilanjutkan dengan mengulum penis mereka semua hingga mereka semua orgasme di dalam mulutnya.
Para gadis berjilbab korban mereka biasanya pilih menurut. Lalu, yang tak pernah diperhitungkan oleh para gadis ini. Selalu saja, sekalipun mereka sudah menurut, mereka tetap diperkosa. Dan mereka tak bisa berbuat apapun. Apalagi, rekaman aksi sukarela mereka ada dalam kekuasaan para pemerkosa.
Gadis berusia 22 tahun ini pun mengalami hal tersebut. Ia masih terengah-engah dengan mulut dan wajah belepotan sperma setelah dengan terpaksa membuka seluruh pakaian kecuali jilbabnya, lalu mengoral mereka semua. Di luar dugaannya, kedua tangannya lalu dipegangi dan ia dibaringkan di lantai yang dingin.
Isnu menjerit-jerit histeris. Tetapi sia-sia. Lelaki yang penisnya paling besar jadi orang yang pertama menjebol kegadisannya. Lalu, 4 lainnya segera menyusul. Isnu pingsan saat anusnya untuk pertama kali disodomi. Tetapi itu tak membuat mereka semua berhenti. Bahkan, saat ia siuman, tiga lubang di tubuhnya dimasuki tiga penis sekaligus.
Hampir 5 jam Isnu diperkosa. Tiap orang melakukannya 2-3 kali. Menjelang petang, Isnu dipaksa mandi bareng. Lalu, ia kembali berjilbab dan berjubah. Tetapi, kali ini tanpa pakaian dalam. Ia kemudian dikembalikan ke tempat semula ia diculik. Tetapi, sepanjang jalan ke sana, masih ada yang menyempatkan memaksanya mengulum penisnya hingga sperma kembali harus ditelannya.
Sepedanya masih di sana. Isnu dengan menahan pedih, mengayuh sepedanya pulang. Hari itu, adalah awal penderitaan panjangnya.

Tiga hari Isnu Katon tak mengajar. Teman-temannya hanya tahu ia sakit. Tetapi, gadis berusia 23 tahun ini memang betul-betul sakit. Terutama pada organ-organ seksualnya. Meski begitu, Isnu tak mungkin menceritakan kejadian sebenarnya kepada siapapun. Ia tak sanggup membayangkan foto-foto telanjang dan filmnya saat beradegan striptease dan mengulum penis lima lelaki, tersebar luas. Akhirnya, Isnu menyerah pada keadaan. Ia berharap para pemerkosanya tak akan datang lagi.

Tetapi ia salah. Buktinya, seminggu setelah perkosaan, Isnu sedang mengikuti penuturan tentang pijat bayi dari seorang dokter.

"Bu Isnu, ada yang cari. Katanya saudaranya. Dia nunggu di ruang guru," kata Astuti, staf Tata Usaha TK. Isnu langsung ke ruang guru. Ruangan itu kosong karena semua guru bersama wali murid mengikuti acara soal pijat bayi tadi.

Isnu nyaris menjerit melihat dua lelaki yang pernah memperkosanya di ruangan itu.
"Ma... mau apa kalian ?" katanya dengan bibir gemetar.
"Cuma kangen, kok," kata seorang di antara mereka sambil mendekat. "Kangen memekmu ini," lanjutnya sambil meremas pangkal paha Isnu. Isnu nyaris menjerit.
"Silakan teriak, kalau kamu ingin teman-temanmu dan wali murid tahu," katanya sambil menutup pintu ruang guru.
"Sebentar saja, kok Bu Isnu," katanya sambil memutar tubuh Isnu hingga kini menghadap meja. Isnu menggigit bibirnya ketika bagian bawah jubah biru tuanya diangkat, lalu rok dalam dan celana dalamnya dipelorotkan turun.
"Nggghhhh...." Isnu berusaha tak menjerit kendati masuknya penis lelaki itu ke vaginanya masih terasa menyakitkan.
Kedua tangan lelaki itu terus meremas-remas kedua payudaranya hingga terasa menyakitkan. Lelaki itu betul. Ia tak lama kemudian orgasme. Tetapi Isnu tak merasakan semburan sperma. Ternyata lelaki itu menggunakan kondom. Kondom itu kini disodorkan ke depan wajahnya.
"Minum ini, Bu Isnu. Kalau tidak, temanku nggak mau pakai kondom lho. Bisa-bisa ada air mani yang meleleh waktu ibu ikut sarasehan pijat bayi itu," katanya setengah memaksa.
Isnu pun dengan menahan jijik menelan juga sperma dalam kondom itu. Tepat pada saat itu, lelaki satunya menyetubuhinya dari belakang.
Diam-diam, lelaki yang sudah menyetubuhinya keluar. Lalu, tak lama kemudian, lelaki lain masuk. Begitu terus. Satu selesai, menyuruhnya menelan sperma dalam kondom, diganti lelaki lain menyetubuhinya. Satu lagi masuk, hingga akhirnya lima lelaki pemerkosa Isnu pun tuntas.
Lelaki kelima, sebelum pulang menyempatkan membuka bagian depan jubah Isnu, lalu mengulum kedua putingya.
"Ngomong-omong, siapa perempuan yang lagi ceramah pijat bayi itu ?" katanya. Jari tengahnya menekan klitoris Isnu dengan gerak berputar.
"Nghhh... itu... Bu dokter Marul.... kenapa ?"
"Lain kali, kami ingin ajak dia ngentot bareng kamu," katanya.
Isnu kaget. Tetapi tak bisa apa-apa. Apalagi, lelaki itu kemudian menyuruhnya menelan spermanya yang tertampung dalam kondom.
Isnu keluar dari ruang guru dengan wajah pucat. Astuti memandangnya dengan heran.
"Kenapa, Bu Isnu ? Kalau masih sakit pulang saja," katanya.
"Iya, Bu. Aku pulang saja," kata Isnu sambil melangkah gontai. Diliriknya Dokter Marul yang tengah ceramah. Yang dilirik tersenyum. Tak tahu apa yang bakal terjadi beberapa hari lagi.

Ini hari Jumat. Sembilan hari lagi Isnu akan menikah. Ia bingung bukan main. Apa yang harus dikatakannya soal keperawanannya kepada suaminya nanti ? Saking bingungnya, ia tak begitu konsentrasi mengajar hari ini.
"Bu ada yang cari. Saudara ibu yang kemarin. Dia nunggu di ruang guru," tiba-tiba Bu Astuti membisikinya.
"Eh uh... suruh ketemu di sini aja, Bu," sahutnya salah tingkah.
"Lho, dia sudah di ruang guru, Bu. Sudah sana temuin. Kayaknya penting banget. Anak-anak biar aku yang urus," sahut Astuti.
Dengan cemas, Isnu masuk ke ruang guru. Semua guru sedang di ruang kelas masing-masing. Yang dikhawatirkannya jadi kenyataan. Di dalam, sudah ada lima 'tuan'-nya. Seorang di antaranya langsung menyambut dengan mencium bibirnya dengan penuh nafsu. Entah tangan siapa yang kini bermain-main di dada, pangkal paha dan pantatnya.
Lalu, kejadian seminggu lalu terulang. Satu persatu menyetubuhinya. Dan, 5 kondom sperma pun terpaksa ditelannya. Celana dalam dan bra-nya, kali ini bahkan diminta mereka.
"Wah, bu guru mau nikah kok nggak bilang-bilang ? Kami kan harus ngasih kado juga," kata seorang lelaki ketika semua sudah selesai. Isnu duduk di kursi. Dari belakang, lelaki itu meremas-remas kedua payudaranya dari luar jilbab putihnya yang panjang sepinggul.
"Saya mohon, jangan ganggu saya lagi," kata Isnu lirih. Kedua putingnya terasa dipilin-pilin.
"Iya deh, kalau sudah nikah nggak kita ganggu lagi. Nah ini, kami mau mengundangmu untuk terakhir kali. Sekalian pesta menjelang pernikahanmu," lanjut lelaki itu. Tahu-tahu tangannya sudah menyusup ke balik jubah Isnu, terus turun sampai ke pangkal pahanya.
"Ma... maksud...nya ?" Isnu cemas. Ia menggeliat merasakan jari lelaki itu menyusup ke celah vaginanya.

"Hari Minggu besok, kami mau pesta dengan bu dokter Marul !" kata-kata lelaki itu begitu mengejutkannya.

"Bu...bu Marul ? Jangan... jangan lakukan itu padanya !" kata Isnu nyaris memekik.
"Memangnya kamu bisa mencegahnya ? Kamu malah bakal ikut pesta sama dia. Nah, kamu juga bisa lihat dia telanjang besok. Kamu bisa lihat memek dia kemasukan lima kontol, besok Minggu," desis lelaki itu sambil meremas agak keras vagina Isnu yang tembam.
"Ihhh... kalian... jahat !" Isnu mengerang.

"Baru tahu ya ? Nah, sekarang kamu pamit sama teman-temanmu sekarang. Bilang, mau urusan pernikahan gitu. Soal orangtuamu, jangan khawatir, kami sudah pamitkan dengan alasan kamu ada urusan 2 hari di sekolah. Cepat sana pamit !" lanjut lelaki itu sambil menepuk pantat Isnu yang bahenol.

"Ha ha ha... kamu memang gadis penurut," kata seorang pemerkosanya saat Isnu naik ke mobil Kijang mereka.

Segera saja Isnu jadi bulan-bulanan. Seluruh pakaiannya, kecuali jilbab segera lepas. Isnu terus memekik, menjerit, mengerang dan merintih. Sekujur tubuhnya jadi sasaran jamahan. Malah, ia sempat menjerit panjang lantaran pengalaman baru. Yakni ketika kedua puting susu dan klitorisnya dijepit dengan penjepit jemuran !

Isnu ternyata diajak ke sebuah hotel di utara kota. Hotel ini tampaknya biasa digunakan pasangan-pasangan yang ingin rahasianya terjaga. Salah satu tandanya, di tiap kamar ada garasi. Begitu mobil masuk garasi, rolling door bisa segera ditutup dan mereka langsung masuk ke kamar. Tak lama kemudian room boy datang untuk menagih pembayaran.
Room boy heran juga melihat seorang perempuan berjubah dan berjilbab sepinggul duduk di tepi ranjang dan lima lelaki lain ada di ruangan itu. Lelaki pimpinan kelompok tampaknya sadar akan keheranan room boy.
"Mas, aku minta tolong bisa nggak ?" bisiknya.
"Apa, Pak ?"
"Tolong jangan bilang siapa-siapa kalau kami bawa cewek berjilbab. Jangan khawatir, sebagai imbalannya, kamu boleh ngentot sama dia," lanjutnya. Pemuda itu melotot heran.
"Ah, yang bener ?" katanya sambil memandangi Isnu. Yang dipandangi menunduk.
"Bener. Sekarang aja, cepat," sahutnya. "Nu, Isnu... cowok ini mau lihat memekmu. Coba berdiri, angkat jubahmu," lanjutnya kepada Isnu.

Dengan gemetar, Isnu mengangkat jubahnya sampai ke pinggul. Room boy mendelik melihat vagina Isnu."Sudah sana, cepat. Dia sudah siap," katanya kepada room boy.

Tanpa disuruh dua kali, pemuda itu langsung menyerbu Isnu. Didorongnya Isnu hingga terlentang di ranjang dengan jubah tersingkap. Gadis itu memekik-mekik ketika vaginanya dijilati room boy. Kelima lelaki lain menonton hiburan mengasyikkan itu. Bahkan, diam-diam ada yang merekamnya dengan handycam.

Isnu seperti boneka. Dibolak-balik pemuda itu. Disetubuhi dari depan, belakang dengan berbagai gaya. Jubahnya sudah melayang ke lantai. Beberapa menit, sempat juga ia mengoral penis room boy.

Pemuda itu tampaknya hampir orgasme. Ia menggenjot vagina Isnu dengan cepat.
"Buang ke mulutnya, Mas !" kata pimpinan kelompok. Betul saja, pemuda itu mengakhirnya dengan menumpahkan sperma ke mulut Isnu. Gadis itu terisak-isak dan menekuk tubuhnya di ranjang.

Selepas melayani room boy, mereka menggiring Isnu ke kamar mandi. Kamar mandi yang tak seberapa luas itu jadi makin sempit karena dipadati 5 lelaki bugil dan seorang gadis yang semula berjilbab, tetapi kini juga telanjang bulat.

Tentu saja, acara mandi itu jadi tak lazimnya orang mandi. Sekujur tubuh Isnu memang disabuni oleh kelima maniak itu. Tetapi begitu sekujur tubuh bugil Isnu berlapis sabun, mereka menyempatkan menyetubuhinya lagi.

Isnu betul-betul lelah. Ia agak lega ketika acara mandi itu selesai. Ia kembali disuruh berjilbab. Tapi alangkah kecewanya ia lantaran tak diperkenankan memakai selain itu. Apalagi, ujung jilbabnya kemudian diikat ke belakang punggungnya. Jadilah ia kini berjilbab, tetapi selebihnya telanjang bulat.

Mereka kini membaringkannya di ranjang. Tetapi, tak diduganya, kedua tangannya kini diikat ke sudut ranjang. Begitu pula kedua kakinya. Kini Isnu bagaikan huruf X. Posisi itu sungguh menyiksanya. Tak pernah terbayangkan olehnya bakal mempertontonkan auratnya.

"Sudah, kamu sekarang tidur aja. Nanti malam kita pesta," kata pimpinan komplotan itu sambil mengusap-usap celah bibir kelaminnya. Isnu memalingkan wajah dan memejamkan mata.

Kelima lelaki itu masih tetap bugil. Mereka ikut menggeletak di sekeliling Isnu. Meski tak menyetubuhinya, tetap saja mereka mempermainkan organ-organ seksualnya. Payudaranya tak pernah istirahat dari remasan. Ada juga yang menyempatkan mengulum kedua putingnya.
Isnu menggeliat ketika merasakan sesuatu yang dingin di dalam vaginanya. Ternyata, ada yang menyelipkan leher botol bir ke vaginanya hingga isinya tumpah di dalam. Lalu, lelaki itu menyeruput bir dari dalam vaginanya. Begitu terus diulang-ulang. Menyodok-nyodokkan leher botol ke vagina Isnu dan kemudian menyeruput bir dari dalamnya, sampai botol itu kosong. Tetapi, kali ini, leher botol itu dibiarkannya tetap terselip di antara bibir kelamin Isnu.
Karena terlalu lelah, Isnu betul-betul tertidur. Begitu pula kelima pemerkosanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar