Minggu, 13 Juni 2010

Miftah

Pagi ini, entah mengapa aku bersemangat untuk pergi ke sekolah. Setelah menyiapkan buku, tanpa menyia-yiakan waktu, aku langsung pergi ke kelas. Di tengah-tengah perjalanan aku bertemu dengan beberapa adik kelas. Mungkin mereka habis piket. Langsung saja aku menuju kelas tercinta, berharap aku orang pertama yang ada disana. Seketika itu juga, aku tidak bisa mengucapkan kata apa-apa. Indra teman sekelasku dan juga salah satu cowok yang aku kagumi tengah memainkan burungya yang menjulang tinggi. Sambil tanganya mengurut ke depan dan ke belakang. Hatiku bertanya? Apa yang sedang Indra lapukan. Sebagai wanita, aku hanya bisa berteriak. Indra pun sadar akan kehadiranku. Dengan sigap, ia segera memasukan burungnya dan menutup celana panjangnya. " Pagi Miftah, tumben pagi-pagi gini udah dateng " aku jawab pertanyaan Indra " Iya nich, daripada gak aja kerjaan. Mending ke kelas aja. Sekalian belajar" Indra kembali bertanya " mift, kamu lihat apa yang aku lapuin tadi?" Mukaku langsung memerah dan tak sanggup mengatakan apa-apa.

Setelah jam pelajaran habis. Semua siswa berhamburan ke luar kelas. Aku masih memikirkan apa yang terjadi tadi pagi. Hal ini membuat aku penasaran. Aku sungguh tabu akan hal yang berbau sex, sebagian dari temanku. Apabila hasratnya sedang memuncak. Mereka slalu pergi ke kamar mandi sambil membawa timun, wortel, dan pisang. Menurut informasi, di dalam kamar mandi mereka membuka seluruh pakaiannya. Mulai dari kerudung, jubah, sampai rok. Timun kemudian dimasukan ke dalam vagina maju, mundur sambil membayangkan itu kelamin cowok yang mereka kagumi. Aku ingin menjaga diri, tapi akibat pristiwa tadi. Hasratku memuncak, segera aku pergi ke dapur untuk meminta timun yang masih segar. Beruntung kamar mandi pojok kosong. Langsung saja aku masuk kesana. Sebuah timun aku keluarkan dari baju putihku. Kemudian kerudung panjangku mulai ku buka, ku biarkan rambut panjangku terutai. Aku sungguh bangga dengan parasku yang cantik, baju putih telah aku buka, dan rok hitam. Kini tinggal pakaian dalam yang menempel di tubuhku. Bra pink mulai aku lepaskan. Mencuatlah buah dadaku yang besar dengan puting merah muda. Celana dalam putih yang aku kenakan telah terlepas. Secara reflek aku meremas kedua dadaku yang besar, achhh....achhhhh...achhhh
hanya kata-kata itu yang keluar dari mulutku. Kini putingku telah mengeras, tapi aku tetap meremas dengan penuh nafsu. Sambil tetap meremas timunpun aku ambil. Segera ku buka lubang vaginaku. Aku tertawa kecil, karena vaginaku di tumbuhi oleh bulu-bulu halus. Dengan penuh nafsu, timun ku masukan. Kini telah masuk stengahnya kedalam vaginaku. Nikmat rasanya, pantas saja teman-teman ketagihan. Sambil membayangkan indra, aku terus memainkan timun. Maju, mundur achhhh...achhhh...achhhhh Timun yang masuk kedalam vaginaku semakin membuat tubuhku menggeliang. Tak sanggup rasanya merasakan rasa nikmat yang mengalir begitu deras. Setengah dari timun telah masuk kedalam vaginaku, andai saja timun tadi adalah penis milik indra. Mungkin kenikmatan yang aku rasakan akan lebih. Achh...acchhh..achhhh......ochhhhggg
indra....indra........sambil terus meremas payudara. Aku merasa ada sesuatu yang akan keluar, gerakan maju mundur terus aku lapukan, semakin cepat vaginaku memerah dan mulai basah oleh cairan putih. Gerakan semakin kupercepat, semakin cepat ochhhhggg.......achhhhggg.. aku mengeluarkan teriakan paling keras. Disertai dengan keluarnya cairan putih yang sangat banyak. Aku sempat khawatir akan ada orang yang tahu, apa yang aku lapukan di kamar mandi tadi. Dengan segera ku mabil pakaian putih dan rok hitamku. Tak lupa juga timun tadi yang aku pakai untuk berfantasi. Kini, Miftah menjadi akhwat yang tertutup jilbab lebarnya.

Di Asrama aku terkenal sebagai seorang kakak kelas yang pintar, cntik, juga alim. Jadi wajar saja, jika sebagian dari mereka menghormatiku. Tidak sedikit dari adik kelasku yang curhat tentang ikhwan yang ia taksir. Mulai dari hal yang ngedate, bercanda, sampai hal seperti itu. Pernah ketika itu indah bercerita, kalau payudaranya pernah diremas oleh zacky, selain itu di waktu kelas kosong. Mereka berdua berciuman dengan ganasnya, lidah saling berdau, sampai bertukar rasa air liur. Untung saja aku tidak melaporkan hal itu ke ustadzah, karena aku tahu indah orangnya polos. Zackylah orang yang seharusnya disalahkan.

Malam ini aku berharap bisa mimpi indah bersama Indra. Mimpi untuk menandakan kedewasaan seseorang, mimpi yang mewajibkan untuk mandi wajib sesudahnya. Sebelum tidur aku terbiasa cuci muka, dan gosok gigi. Ketika ditempat tidur, aku terbiasa melepas kerudung lebarku, membiarkan rambut panjangku terurai. Semua pakaian dalam juga ku lepaskan. Hanya baju tidur saja yang ku kenakan. Tidak terasa, waktu subuh sebentar lagi, aku segera bangun dari tidurku. Kerudung segera aku kenakan, dan bergegas ke kamar mandi. Sedikit informasi, kamar mandi ikhwan dan ikhwan saling berhadapan. Jadi wajar saja ada mata-mata jahil yang mengintip akhwat sedang mandi. Aku masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan diri, tanpa ada rasa khawatir sedikitpun. Baju tidurku aku lepas, mencuatlah langsung payudaraku yang besar dan juga putih dengan puting merah muda. Kemudian celana trainingku, gatal rasanya vaginaku. Terakhir adalah kerudung kesayanganku. Aku berbalih, tampaklah sesosok mata memandang dengan penuh nafsu. Aku segera menutup barang kebangganku dan berteriak. " Ada yang ngintip, tolong " semua akhwat langsung menuju ke kamar mandi. Sang pengintip tadi langsung menghilang. " siapa yang ngintipnya mift? " " Aku juga gak begitu jelas melihatnya. Tapi sorot matanya seperti orang yang aku kenal. Merasa suasana terkendali, aku segera untuk membersihkan diri.
Segar sekali rasanya mandi di pagi hari, saatnya aku berganti pakaian sekolah. Sejenak aku memandang tubuhku yang indah didepan kaca. Payudaraku menjadi daya tarik tersendiri karena ukurannya yang besar, dan padat. Mengapa tidak sekali-kali aku pakai pakaian ketat saja. Berhbung semua pakaian yang aku miliki berukuran lebar. Maka aku rayu adik kelas untuk meminjamkan pakaiannya yang kecil. Setelah aku dapat, segera aku berpakaian. Ochhh.... sungguh sulit dipercaya semua lekuk tubuhku tercetak dan bagian depanlah yang paling menonjol. Serasa ia ingin mencuat, aku harus jaga diri dari tangan-tangan jahil. Rok hitam telah aku kenakan. Sedikit tampil beda aku pakai shadow di sekitar mataku, di tambah sedikit pemerah wajah. Sungguh cantik dan sexynya aku hari ini. Kira-kira apa reaksi dari ikhwan dan akhwat yang melihatku.

Aku masuk ke kelas sambil mengucapkan " selamat pagi semua " mendengar itu semua berpaling ke arahku seakan ingin melihat siapa gerangan. " Sontak semua ikhwan memandang ke arahku " Miftah, kamu cantik banget " Iya nich, hari ini Miftah beda dari biasanya. Ada angin apa nich " Semua pujian yang di arahkan ke arahku. Membuat para akhwat syirik, termasuk Nisa. Ia merasa keseksiannya tersaingi olehku. Walaupun berkerudung nisa terkenal binal. Tidak sedikit ikhwan yang ia taklukan. Nisa juga terkenal sebagai akhwat yang sering berhbungan dengan ikhwan. Biasanya ia slalu pintar mencari waktu yang kosong untuk itu. Topik pagi ini yang paling hangat masih tentang sang pengintip. " Mift, emangnya kamu gak liat jelas tadi. Sayang banget kalu dia gak ketangkap." Ikhwan hanya bisa saling menuduh. Sedikit ku lempar senyuman manis kepada mereka. Tanpa sengaja Indra memandang ke arahku. Tatapannya sungguh tajam, seakan tersimpan suatu pesan. Penampilan yang beda berdampak tidak menyenangkan. Semenjak pelajaran dimulai, semua mata ikhwan terus memandangku, apa yang salah. Apa payudaraku begitu menggoga, ataupun wajahku yang mempesona. Aku tak tahan akan keadaan ini. Nisa tidak terlihat ketika pelajaran berakhit. Aku tidak ada rasa curiga sedikitpun terhadap Nisa. Satu sisi lain, Akbar seakan menghilang begitu saja. Apa ada kaitannya dengan Nisa? Jam pelajaran habis, semua ikhwan dan akhwat berteriak senang. Entah mengapa sebelum pulang, aku ingin pergi ke kantin belakang. Beberapa sapaan aku dapatkan dari temanku yang lain. Tiba-tiba aku terkejut ketika mendengar desahan seorang lelaki. Karena penasaran, aku mencari sumber suara tadi. Ternyata suara tadi berasal dari gudang belakang. Positif thinking jalan yang terbaik, siapa tahu itu orang yang membutuhkan pertolongan. Segera kudekati, betapa terkejutnya aku. Nisa yang tadi menghilang ternyata sedang asyik menghisap penis akbar yang sudah tegang dan merah. Ku ingin berteriak, tak sanggup rasanya melihat mereka berdua. Seketika itu, bisikan setan datang. Aku mendekat dan ingin melihat jelas mereka berdua. Nisa terlihat masih menggunakan pakaian lengkap. Akbar telah melepas celananya. Penis akbar sungguh besar, nisa sangat menikmati setiap jilatannya, akbar seakan tidak kuat menahan gigitan dan isapan dari mulut Nisa. Sepertinya Nisa sangat handal dalam hal ini. Isapan nisa berhenti, ketika akbar melepasa bajunya. Keringat telah bercucuran di tubuhnya. Kini di depan mataku akbar tidak menggunakan sehelai benang apapun. Nafasku semakin tak menentu, detak jangtung semakin cepat. Akbar membuka kancing baju nisa satu persatu, aku semakin bernafsu melihat hal itu. Dengan ganasnya bra pink nisa ditarik. Sementara kerudung sengaja masih menempel. " Nis, payudara kamu indah banget" " Boleh aku remes gak "
" Masa sich, indah apanya. Mau remas yach remas aja " Suara nisa begitu manjanya
Aku semakin terangsang meliahat adegan mereka berduka, dengan segera aku mainkan vagina ini yang mulai basah. Achhh...achhhhhh......ku vaginaku sungguh gatal. Aku jadi teringat akan Indra, ku masukan jari-jariku kedalam vagina.
Akbar terus meremas payudara Nisa, menghisap, menggigit pentilnya. Nisa berteriak ketika putinya digigit akbar. Nisa merasa payudaranya telah mengeras. Nisa melepas rok hitamnya, kemudian ia meminta akbar untuk menarik celana dalamnya. Tentu saja, akbar tidak menolak. Celana dalam pink nisa telah terlepas. Vaginanya begitu merekah. Lidah akbar bermain lincah dalam vagina Nisa. Ochhhh.........Achhhgggg.....Ochhhhh...... yes Akbar. Gerakan jariku semakin cepat, seketika itu juga. Cairan nikmat keluar dari vaginaku. Suasana yang sepi membuat aku leluasa untuk apapun. Rok segera aku lepaskan, dilanjutkan dengan Pakaian putihku. Terakhir adalah kerudung ketat yang aku pakai hari ini. Seorang Miftah sekarang hanya menggunakan pakaian dalam. " Akbar kamu pinter banget, puasin aku, achhh,achhhh " Vagina nisa masih dipermainkan oleh lidah akbar. Jari-jari akbar juga bermain di daerah licin nisa.
Aku semakin tak kuasa, tanganku meremas payudara indah ini. Pakaian dalam belum mau aku lepaskan, achhhh...ochhhhh....yes.........ought....... teriakan kecil itu yang hanya aku ucapakan.
Tangan nisa meraih penis akbar, menjilatinya. Sambil sesekali mengocok pelan. Ia sepertinya tak ingin akbar ejakuasi duluan. " Bar, bukain kerudung nisa dong" Akbar menjawab " Emangnya kamu gak malu sama aku "
" Buruan ah, nisa gak tahan nich " Selama ini, akbar belum pernah melihat Nisa tanpa kerudung. Walaupun ia terkenal sebagai akhwat yang binal. Perlahan-lahan kerudung Nisa dilepasnya. Rasa penasaran terlihat dari wajahnya. " Nisa berkerudung ataupun tidak, kamu tetap cantik " Rambut yang selama ini tertutupi, kini tampak dengan indahnya di depan akbar. Aku terpana melihat rambut Nisa yang indah, panjang dan berwarna kecoklat-coklatan. Nisa membuka vaginanya lebar-lebar, terlihat birahinya telah memuncak. Akbar segera mengarahkan penisnya menuju vagina Nisa, ia sempat beberapa kali gagal. Padahal yang ia tahu, Nisa sudah tidak perawan. " Nis, vagina kamu sempit banget. " " Coba terus aja Bar " Akbar terus mencoba, bahkan penisnya ia lumuri air liut Nisa. Baru kali ini aku merasakan hal yang sangat nikmat sebagai akhwat. Selama ini aku hanya bisa berimajinasi tentang seks. Tubuhku bergoyang merasakan irama dan desiran dari hasrat birahi. Sambil terus bergoyang aku buka pakaian dalam yang telah basah oleh keringat ini. Nisa menjerit dengan kerasnya " Achhh...achhh...achhh akbar sakit " Akbar sepertinya khawatir akan Nisa. " Kamu gak apa-apa khan " " Terusin aja bar, jangan lupa genjot yang kenceng " Nisa memaikan rambutnya yang panjang sambil mengigit kecil bibirnya.
Bayangan Indra seakan hadir seketika. Mengajak aku bersenggama dan berbagi kenikmatan.
Nisa sangat menikmati setiap goyangan Akbar, begitu pula dengan akbar. Penisnya serasa dijepit dengan pijitan nikmat dari Vagina Nisa. Akbar.....achhhhh...ochhhgggg... genjot terus. Akbar tersenyum dan mempercepat genjotannya. " Gimana nis, kamu puasa gak???" " Puas banget. penis kamu udah gede, keras lagi " Bikin aku gereget.
Aku tak tahu harus kemana melampiaskan birahi ini. Mulut Nisa terus meracau dan mengeluarkan kata-kata nikmat. Rambutnya berantakan, tubuhnya kilat dengan keringat. Genjotan akbar semakin cepat, penisnya tampak sangat merah, vagina Nisa juga telah basah dengan cairan nikmat. Nisa mengigit bibirnya dan berteriak dengan keras " " Achhhh......akbar nisa udah nyampe " Akbar seakan berhasil mengalahkan Nisa. Genjotan semakin cepat, cepat, cepat, seakan ada sesuatu yang bedenyut dari penisnya. Tak sanggup menahan nikmat, Akbar tidak mencabut penisnya. Ia membiarkan spermanya mengalir dalam vagina Nisa. " Nisa, aku udah nyampe nich. Kamu siap tahan semprotan sperma ini " Crooot..............Croootttt..............Crooott ttt...........Crotttt.......Croooottt Akbar mengeluarkan sperma beberapa kali.

Sungguh beruntung jadi nisa. Bisa merasakan kenikmatan dari Akbar, Mereka berdua tampak senang. Saling memuji dan beristirahat sebentar. Gini giliran fantasi liarku. Sambil membayangkan kejadian tadi, aku remas payudara yang indah ini. Ochhh.......nikmat rasanya. Kemudian aku gosok vagina ini, dan memasukan jemariku.
Achhh......aCHHHH...........oCHHHGGGTT.........bul u-bulu halus ini aku persembahkan untuk Indra. Mereka berdua masih terlihat kelelahan. Untung saja, aku semakin menikmati fantasi birahi ini. Sebagai akhwat, ternyata birahiku sangat besar. Hasrat yang tertahan harus aku lampiaskan. Aku semakin memejakan mata, menahan ras nimat dari permainan jemariku. Indra.....achhh....acghhhhh...... tanganku kini memainkan puting susuku.
Kesadaran tengah hilang dariku. Aku membuka mata untuk melihat sejenak apa yang Nisa dan Akbar lapukan. Betapa terkejutnya aku, sesosok pria telah berdiri dan menyaksikan apa yang akhwat lapukan. Sungguh diriku tak berkutik sedikitpun. Ku tutup semua daerah sensifit yang ku miliki. Tapi ternyata ikwan tadi berkehendak lain. Ia menginginkan diriku. Tolong apa yang harus aku lapukan sebagai akhwat!!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar